Kesegaran itu ada dalam manisnya kuah kupat tahu

Saya ingat sekali, dulu saat SD kelas 2, saat pulang sekolah dan merasakan perih di perut, hal pertama yang terlintas di kepala saya saat itu adalah tahu, cabe, dan bawang putih, kenapa demikian?.. karena memang itulah yang tersedia dapur, dengan cukup menggabungkan ketiga bahan tersebut di tambah sedikit garam, saya bisa begitu menikmati menu makan siang bersama kakak sepupu saya… sederhana bukan Tapi maaf tidak sesederhana itu…. sebelum digabungkan saya mesti mengulek bawang putih, garam dan cabe dahulu, setelah dirasa cukup… masukan tahu kedalamnya dan lauk tahu sambal bawangpun siap dinikmati. Menu tersebut buat saya- saat itu- begitu nikmat dan hanya ada dua alasan bila anak seusia saya tidak menyukai menu tersebut : 1. Selera lidahnya yang terlalu tinggi, 2. Keadaaannya tidak seprihatin saya. Tanpa saya sadari, seiring perjalanan waktu, kolaborasi Tahu ddengan bumbu rempah sangat mempengaruhi kehidupan lidah saya kedepan… setelah begitu menikmati menu tersebut, saya pun berupaya mengeksplorasi makanan dengan tema sejenis…. Dan ternyata … Magelang punya lho.. panganan nikmat dan menyegarkan dengan Tahu sebagai pemikatnya……-ya seperti bunga yang memikat kumbang-……#hadeh mulai dech#. Tahu-sang pemikat itu- di sandingkan dengan kupat (ketupat-red) ditemani sayuran Kol dan tauge ditambah modifikasi irisan bakwan atau gorengan lainnya. Dan bila bahan-bahan tadi sudah…

Ketika Pak Roikam Bicara Berkah
Cerpen , Semua Tentang Magelang / 18 Januari 2017

“Tidak habis fikir saya!”, serunya mengagetkanku, membuatku beringsut sedikit ke belakang mengingatkanku akan kisah-kisah drama kehidupan ala Dedi Sutomo aktor kawakan era 80an yang memerankan sosok ayah bijaksana secara totalitas dalam drama Rumah Masa Depan, Drama yang sanggup membuatku rela berjalan jauh untuk menyaksikannya, kala diriku masih terlampau lugu untuk memahami kehidupan. Di desa kami lelaki itu memang dikenal berwajah sangar dan kelam tapi begitu santun juga pekerja keras, walau tinggal berbeda desa, keuletannya termasyur hingga banyak orang kaya di desa kami menggunakan jasanya untuk sekedar membersihkan rumput di halamannya. Pagi itu kekelaman wajahnya ada di hadapanku sekelam pagi yang menggantung hujan, manakala mentari belum sanggup menampakkan wajah terangnya, selimut kabutpun seperti hilir mudik menyelimuti desa berkendara angin sepoi-sepoi. Baju hijau muda bertuliskan merek sebuah obat pembasmi serangga tanaman masih tampak menggantung di dinding rumah itu, baju itu adalah saksi bisu cucuran keringatnya sekaligus kawan akrabnya dalam menghabiskan siang terik sehari-hari di sawah yang bukan miliknya, baju itu menjadi perlambang kegagahannya menaklukan terik panas selain kekelam legaman kulitnya. sedikit suram dan berubah ditengah-tengah obrolan kami, pemicunya adalah pertanyaanku, pertanyaan yang awalnya sekedar pertanyaan pengisi obrolan tetiba sanggup merubah rona wajahnya. Kami masih terdiam beberapa detik selepas pertanyaan “ Pak Roikam…