Ketika Pak Roikam Bicara Berkah
Cerpen , Semua Tentang Magelang / 18 Januari 2017

“Tidak habis fikir saya!”, serunya mengagetkanku, membuatku beringsut sedikit ke belakang mengingatkanku akan kisah-kisah drama kehidupan ala Dedi Sutomo aktor kawakan era 80an yang memerankan sosok ayah bijaksana secara totalitas dalam drama Rumah Masa Depan, Drama yang sanggup membuatku rela berjalan jauh untuk menyaksikannya, kala diriku masih terlampau lugu untuk memahami kehidupan. Di desa kami lelaki itu memang dikenal berwajah sangar dan kelam tapi begitu santun juga pekerja keras, walau tinggal berbeda desa, keuletannya termasyur hingga banyak orang kaya di desa kami menggunakan jasanya untuk sekedar membersihkan rumput di halamannya. Pagi itu kekelaman wajahnya ada di hadapanku sekelam pagi yang menggantung hujan, manakala mentari belum sanggup menampakkan wajah terangnya, selimut kabutpun seperti hilir mudik menyelimuti desa berkendara angin sepoi-sepoi. Baju hijau muda bertuliskan merek sebuah obat pembasmi serangga tanaman masih tampak menggantung di dinding rumah itu, baju itu adalah saksi bisu cucuran keringatnya sekaligus kawan akrabnya dalam menghabiskan siang terik sehari-hari di sawah yang bukan miliknya, baju itu menjadi perlambang kegagahannya menaklukan terik panas selain kekelam legaman kulitnya. sedikit suram dan berubah ditengah-tengah obrolan kami, pemicunya adalah pertanyaanku, pertanyaan yang awalnya sekedar pertanyaan pengisi obrolan tetiba sanggup merubah rona wajahnya. Kami masih terdiam beberapa detik selepas pertanyaan “ Pak Roikam…