Berbeda-beda dan berdosa
Cerita , Rada Serius / 19 September 2017

Didalam kehidupan ini, tentunya kita tidak akan lepas dengan yang namanya interaksi, interaksi secara  mudah bisa diartikan sebagai konsekuensi kita manusia sebagai makhluk sosial. Saat kita berbicara, menyapa, bergurau, bercanda bahkan berdebat adalah contoh dari sebuah interaksi. Mengingat manusia adalah makhluk berakal, dalam interaksi tersebut sering didapati perbedaan pendapat, dari yang sederhana seperti berbeda pilihan menu makanan, bahkan sampai yang kompleks seperti perbedaan dalam memilih jodoh. Perbedaan pendapat itu biasa, karena memang perbedaan pengetahuan, pengalaman dan perilaku setiap manusia berbeda-beda, nah… perbedaan itu akan menjadi masalah bila salah satu pihak mulai menggunakan egonya untuk memaksakan pilihannya menjadi pilihan orang lain…. Buat saya, berbeda pendapat syah-syah saja selama tidak memicu ‘dosa’ social berikutnya…..- waduh makin mumet Ki-…. Dari dulu saya paling takut sama yang namanya ‘dosa’….. #hayooo yang sependapat angkat tangan..# … Lah bayangkan saja… bila hanya masalah perbedaan pendapat… saya jur tergiring untuk debat, mulai melupakan nilai-nilai manusia kita untuk menghargai kawan,….., mulai mensyahkan kata untuk mengumpat, mencaci, menghina…….# duh Gusti… paringono kesabaran……jauhkan saya dari sifat-sifat itu# Pilihannya sulit….. kalau yang berbeda pendapat dengan kita adalah kawan, teman, sohib dan yang setara….  Paling poll kita misuh-misuh, mengumpat, mencaci…….#dosa… Nah kalau yang berbeda pendapat dengan kita adalah orang yang statusnya sosialnya…