Memaknai hidup dan mati dengan keceriaan…..

3 Maret 2017

 

Senin lalu adalah hari yang mendebarkan buat kami, karena hari itu adalah hari dimana kami berempat mendapat undangan makan bersama di sebuah warung mie godog di pedalaman Muntilan Magelang. Walau mendebarkan nyatanya kami lalui dengan penuh canda, celotehan dan candaan seperti silih berganti hadir seperti hadirnya kamu dalam diriku.. (halah wok..wok)…, kecerian itu hadir tak lain karena Daihatsu Ceria adalah tumpangan kami…. siang itu si Ceria genap menggendong kami yang bila ditotal bisa mencapai 300an Kilogram…. apa?300Kg…. kamu jahat Kaka… kasihankan Cerianya …

Ini bukan perkara kasihan-mengkasihani.. ini jelas perkara keceriaan, perkara bagaimana sebuah komunitas bisa menjadi solid dan kuat hanya dengan hadirnya Mie Godog ditengah-tengah kami.

 

 

 

Kami berempat terkadang memang menghabiskan waktu istirahat kami untuk sekedar berkumpul dan melahap apa yang bisa kami lahap, walau berbeda zaman dan generasi kami seperti ta canggung untuk berbagi cerita. Ada Mas Zain seorang pecinta tanaman yang telah puluhan tahun malang melintang didunia pelaporan. Adapula Mas Edi seorang comedian yang berakhlak mulia ,dan Ajeng yang tak lain ta bukan sebagai sumber kecerian diantara kami. Dua nama pertama mewakili generasi diatas kami, generasi orde baru tepatnya dan dua nama terakhir tentu saja adalah generasi kekinian, generasi yang memang hadir dengan gaya masa kini… (hadeh wok..wok ra isin po?)

 

Singkat cerita, saya bersedia di kukuhkan sebagai pengemudi tamu pertama diantara kami berempat- walau terkadang terasa sebagai risiko anak baru- saya terima itu dan saya persiapkan diri saya sekuat mungkin menghadapi semua ‘cobaan’ ini , walau saya merasa siap.. apapun itu.. gemetar juga saya bila melihat ‘kecilnya’ ruang kemudi dibanding ukuran badan saya, terbayang bagaimana berat beban yang harus ditanggung jok kemudi bila saya pengemudinya.

 

Dan ternyata… rasa itu hadir… rasa yang selama ini membuatku gundah gulana, bagaimanapun jok dan space ruang kemudi tidak salah… (ayo tebak siapa yang salah..), saya begitu sulit untuk masuk dan ketika saya berhasil…. fuih lega rasanya, minimal saya bisa langsung duduk tanpa kurang satupun kecuali kurangi berat badanmu…..#hmmm#

 

Dan saat melajupun kami nikmati sebagai sebuah perjalanan indah penuh dengan keceriaan, putaran roda yang terdengar sedikit menggelitikpun terdengar syahdu.. sesyahdu Mie godog dambaan kami, kendatipun saya terbiasa dengan menu mie godog, siang itu menjadi luar biasa karena kecerian hadir ditengah-tengah kami.
Sesampainya di lokasi, kecerian makin bertambah karena banyaknya klethikan hadir di hadapan kami, ada kacang goreng asin dengan kulit arinya, keripik tela dan snack ringan yang menghanyutkan lainnya.

 

Tanpa menunggu lama, seporsi hidangan mie godog hadir satu persatu… ya satu persatu karena itulah yang dapat menjaga mutu dan rasa mie godog … kata penjualnya

 

Selepas santapan Mie Godog, kami pun bergegas kembali ke kantor .. sebagai seorang pekerja yang baik, waktu adalah emas buat kami….. kecuali Ajeng karena dia satu-satu mbak diantara kita.

 

Dan keceriaan itupun berubah menjadi mendebarkan…. kenapa.. karena Ajeng sang pemilik kecerian itu berinisiatif mengambil kemudi…… mendebarkan karena ini adalah baru pertama kali Ajeng menjadi penentu hidup kami…. akankah kami korbankan semua ini……….

 
Dan benar saja… detik kedetik berlalu begitu mendebarkan….. Ajeng mengemudikan Cerianya dengan penuh perjuangan… sampai satu ketika si Ceria nyaris saja menempel Kendaraan yang terparkir dijalan…… mas Zain yang duduk disamping pak kusir.. eh Mbak ding…. terlihat pucat pasi…… nyaris berteriak- sebuah hal tabu yang selama ini dijaga oleh mas Zain..#berteriak#…

 

“huhahahahaha’….. kaget saya mendengar tertawaan Ajeng… … uffff ternyata kami berhasil…. melewati kendaraan tadi..

Dan saya pun bahagia ketika terdengar suara :
“Flight Attendance Prepare For landing”

 

sungguh banyak keceriaan tersaji dalam perjalanan singkat kami itu…. kendaaraan ini memang mungil , tapi jago dalam bermanuver di jalan – selama bukan teman kami Ajeng pengemudinya-……. irit bbm pula.
Dan ternyata kita bisa memaknai makna hidup dan mati dengan Ceria……… dengan Ajeng sebagai pengemudinya tentunya….

 

#Peace ya Jeng#

4 Komentar

  • Sugiarto 14 Maret 2017pada10:10 am

    wkkkkkkk…… kebayang piye ndredek mas……..

    • admin 14 Maret 2017pada10:13 am

      hahaha…. ya begitulah bro…..

  • Alex 14 Maret 2017pada10:12 am

    biar ga merasa bersalah ya bro…. pake ngalem daihatsu ceria di akhir, tapi emang irit sich…..

    • admin 14 Maret 2017pada10:13 am

      itu sebuah kejujuran bro….. piye khabarmu… masih di papua?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *